Refleksi Hijau di Bumiluhur: Upaya Kolektif Menjaga Ruang Hijau

Update : 02, Dec 2025 17:03

Kegiatan penghijauan yang dilaksanakan di kawasan hiking Bumiluhur pada pertengahan November 2025 merupakan sebuah langkah mitigasi lingkungan yang patut diapresiasi.

Kota Baru Parahyangan (KBP) sekali lagi membuktikan komitmen jangka panjangnya melalui tradisi penanaman pohon tahunan yang kini telah memasuki tahun ke-13. Pemilihan lokasi di Bumiluhur terasa sangat tepat dan relevan, mengingat kondisi kawasannya yang masih terbuka dan minim vegetasi, sehingga kehadiran pepohonan baru menjadi kebutuhan bagi kenyamanan para pejalan kaki dan keseimbangan ekologi setempat.

Aspek yang menonjol dari inisiatif ini bukan hanya pada jumlah peserta yang mencapai 110 orang, melainkan pada pemilihan varietas pohon yang ditanam. Dengan menombinasikan jenis pohon seperti Jambolan, Kec?retan, Leda, dan Petai, panitia telah mempertimbangkan berbagai aspek fungsional secara matang.

Pohon-pohon ini tidak hanya diproyeksikan sebagai peneduh masa depan, tetapi juga berperan penting sebagai penyerap karbon, penahan erosi tanah yang kritis di area perbukitan, hingga penyedia habitat bagi fauna lokal. Strategi pemilihan bibit ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut telah direncanakan dengan visi ekologis yang mendalam.

Satu hal yang membuat kegiatan ini semakin positif adalah inklusivitasnya terhadap edukasi manajemen sampah. Melalui peran Komunitas Hayu Hejo, kegiatan ini berhasil menyentuh akar permasalahan di kawasan wisata alam, yakni perilaku pengelolaan sampah oleh para pelaku usaha lokal.

Dengan memberikan penyuluhan kepada pemilik warung di sekitar jalur hiking, KBP menciptakan sebuah sistem penjagaan lingkungan yang lebih holistik. Penghijauan dan kebersihan adalah dua isu utama yang tidak bisa dipisahkan, dan integrasi keduanya dalam satu agenda.

Aksi edukasi ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab mereka yang terlibat maupun masyarakat luas yang nantinya akan menikmati hasilnya. Meskipun dilakukan tanpa seremoni yang berlebihan, dampak yang ditanamkan melalui 36 bibit pohon ini memiliki arti besar bagi masa depan kawasan tersebut. Ke depan, tantangan utamanya tetap terletak pada konsistensi perawatan bibit agar apa yang telah dimulai dengan semangat pada Sabtu pagi itu dapat benar-benar tumbuh menjadi hutan kecil yang rimbun dan meneduhkan generasi mendatang.