Jeda di Tatar Sunda, Kehangatan Komunal dalam Lingkungan Berkelanjutan
Update : 29, Jul 2026 14:54source: kompas.com
Aroma petrikor pagi, menguar berpadu dengan hembusan angin perbukitan yang bersih langsung menyambut siapapun yang melewati gerbang utama kawasan terencana, Kota Baru Parahyangan (KBP), di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Saujana, jejeran pepohonan yang tertata rapi menaungi pedestrian, kontras dengan lanskap beton abu-abu yang jamak ditemui di perumahan lain sekitarnya. Warga penghuni, juga mereka yang berasal dari daerah berbeda, memanfaatkan jeda untuk saling hangat bersapa dan menempa raga, menyusuri Jalan Arteri Utama sepanjang 8,6 kilometer dengan ROW 50 meter. Kawasan ini dirancang bukan untuk menjadi tempat tinggal belaka, tetapi sebagai respons aktif terhadap perubahan cara hidup masyarakat perkotaan yang kian menunjukkan dinamika. Terbukti, ruang-ruang berkegiatan yang awalnya hanya untuk berinteraksi, ramai sebagai wahana terciptanya kolaborasi, terlahirnya karya seni yang laik diapresiasi, dan lebih jauh lagi ruang yang mengakomodasi manusia untuk tetap berbudaya.
Pada era di mana tekanan mental dan kelelahan fisik menjadi bagian dari rutinitas harian, kebutuhan akan ruang hidup yang mendukung kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan menyeluruh (wellness) pun menjadi prioritas utama. Hal ini karena lanskap perkotaan yang didukung ruang terbuka hijau alami, terbukti secara empiris mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan harapan hidup warganya. Tentu saja, karena pohon memiliki senyawa phytoncides, yang berguna untuk melindungi dari bakteri dan jamur yang merugikan. KBP yang menempati area 1.250 hektar, pun terus berevolusi menjadi wellness destination terintegrasi di koridor barat Bandung.
Fondasi Karakter Ruang Perkotaan
Setiap jengkal tata ruang di kota mandiri ini tidak lahir begitu saja. Sejak peletakan batu pertama pada tahun 2000 oleh pengembang PT Belaputera Intiland sebagai bagian dari Lyman Group, proyek ini mengusung pilar filosofis yang berbeda. Direktur Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali, menuturkan, nilai dasar yang melandasi seluruh rencana induk perkotaan di sini adalah budaya yang berkeadaban (civilized) dalam tiga pilar mandiri, madani dan alami.
"Filosofi ini tidak hanya diartikan secara sempit dengan membangun gedung-gedung sekolah, ruang komersial, atau bangunan fisik untuk berkegiatan, tetapi diintegrasikan ke dalam struktur tata ruang guna membentuk karakter warga yang peduli pada lingkungan, sosial, dan sejarah lokal," ujar Ryan, dalam perbincangan eksklusif bersama Kompas.com, Jumat (26/6/2026). Ryan menambahkan, pilar-pilar tersebut diterjemahkan ke dalam tiga sub-filosofi utama, yakni pendidikan formal, pendidikan non-formal, dan pendidikan informal. Ketiganya dijalankan secara simultan untuk menciptakan lingkungan yang mencerdaskan. Pendidikan formal diwujudkan melalui klaster institusi pendidikan berkualitas dari berbagai tingkat, di antaranya menerapkan kurikulum International Baccalaureate (IB) dan Cambridge. Mulai dari Bandung Alliance Intercultural School (BAIS), BPK Penabur, Al Irsyad Satya Islamic School, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Kristen Maranatha dan Universitas Santo Borromeus. Kehadiran lembaga-lembaga ini memotong jarak mobilitas harian anak-anak penghuni, memberikan rasa aman sekaligus efisiensi waktu yang signifikan.

Pada dimensi pendidikan non-formal dan informal, tata ruang dirancang bertindak sebagai guru yang diam. Penempatan Puspa Iptek Sundial, jam matahari terbesar di Indonesia yang juga berfungsi sebagai pusat peragaan sains dan teknologi, menjadi penanda fisik yang tegas bahwa sains dan pengetahuan adalah bagian dari identitas kawasan. Begitu pula dengan keberadaan Bale Seni Barli yang menjadi wadah edukasi seni rupa bagi warga dan masyarakat sekitar. Di ruang-ruang terbuka, anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan alam melalui taman-taman bertema, sistem tata kelola sampah terpadu, dan ruang publik pedestrian yang ramah, secara langsung menanamkan budaya disiplin serta penghargaan terhadap ruang bersama sejak usia dini.
Hunian Berbasis Kearifan Lokal
Secara makro, rencana tata ruang KBP menerapkan konsep klaster atau yang secara lokal disebut dengan sistem "Tatar". Pendekatan sosiologis ini sengaja diadopsi untuk mereplikasi kehangatan komunal masyarakat Sunda pada masa lampau ke dalam konteks modernisasi perkotaan. Setiap Tatar dirancang mandiri dengan sistem gerbang tunggal keamanan, namun tetap terhubung secara organik melalui koridor hijau utama kawasan. Penamaan setiap Tatar diambil dari khazanah sejarah dan nilai luhur tatar Sunda, seperti Tatar Surawisesa, Tatar Bungawari, Tatar Wangsakara, hingga Tatar Paramawati, yang masing-masing membawa karakter arsitektur lanskap yang unik. Principal Hadivincent Architects, Vincentius Hadi Soetjiadi, menuturkan, penerapan konsep desain rumah di dalam setiap Tatar menunjukkan konsistensi pengembang dalam merespons iklim tropis lembab setempat. Dengan langgam arsitektur modern tropical, unit-unit hunian baru, seperti pada Tatar Nayapati, dan Bumi Luhur memaksimalkan bukaan besar dan ventilasi silang (cross ventilation). "Desain jendela dan plafon yang tinggi, dirancang secara cermat guna memastikan pencahayaan alami masuk ke dalam ruangan tanpa membawa panas berlebih," ujar Hadi.
Pembangunan Berkelanjutan dan Integrasi Wellness
Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan hidup juga diklaim bukan sekadar pelengkap dokumen pemasaran. Keberlanjutan adalah roda penggerak operasional town management harian. Di tengah ancaman pemanasan global dan penurunan kualitas udara perkotaan, Lyman mengimplementasikan sistem infrastruktur ekologi yang komprehensif. Rencana tapak kawasan dirancang mempertahankan topografi alami perbukitan dan lembah koridor Padalarang, meminimalkan aktivitas potong-dan-uruk (cut and fill) tanah yang ekstrem demi menjaga stabilitas hidrologi kawasan.Pengembang mendedikasikan lebih dari 40 persen lahan untuk ruang terbuka hijau, pembibitan tanaman secara mandiri, dan koridor vegetasi yang berfungsi sebagai filter polusi sekaligus koridor satwa burung lokal. Dalam pengelolaan sumber daya air, kota mandiri ini menerapkan konsep Zero Delta Q Run-Off. Keberadaan danau alami Saguling dan sumur resapan di seluruh tatar, limpasan air hujan dikendalikan penuh agar tidak membebani daerah aliran sungai di luar kawasan, sekaligus menjaga cadangan air tanah lokal tetap melimpah. Warga juga dilibatkan langsung dalam aktivitas pelestarian ekologi. Marketing Manager KBP, Joseph Ijong Dachlan, menegaskan, kemitraan dengan penghuni dalam menjaga ekosistem adalah kunci keberlanjutan kota mandiri ini. "Kami aktif terlibat dalam berbagai kegiatan bersama pelanggan, seperti penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga menjadi mitra dalam pengembangan ide-ide inovatif," imbuh Ijong. Pendekatan kemitraan aktif ini mengubah posisi konsumen dari sekadar pengguna pasif menjadi penjaga ekosistem perkotaan.
Ekosistem Bisnis dan Destinasi Rekreasi
Sebagai kota mandiri yang matang, KBP dianggap berhasil membangun daya tarik komersial yang kuat tanpa mengorbankan ketenangan lingkungan huniannya. Unique selling point kawasan ini terletak pada kemampuannya menyinergikan fasilitas pemenuhan kebutuhan skala makro dengan konsep wellness destination. "Kehadiran peritel furnitur global asal Swedia, IKEA Kota Baru Parahyangan, serta pusat perbelanjaan Yogya Junction menarik arus pengunjung regional dari wilayah Bandung Raya dan sekitarnya, memperkuat posisi kawasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru," papar Ijong.



